Adilkah Tuhan???

    Image

   Maukah kau mendengar sebuah kisah, kawan? Yang akan membuatmu mengerti terkadang sesuatu yang sederhana, bisa mengakibatkan sesuatu yang luar biasa besar… Bayangkan, dulu ada seorang Arab tua, renta, sakit-sakitan. Selama delapan puluh tahun Arab tua itu tinggal di Oase gurun. Kehidupan Oase yang biasa-biasa saja. Bahkan baginya sama sekali tidak berguna. Tidak berarti.

       Berkali-kali dia bertanya kepada dirinya sendiri, buat apa hidupnya begitu panjang kalau hanya untuk terjebak di Oase itu. Saat Oase mulai mengering, saat orang-orang mulai pindah, menyedihkan dia justru memaksakan diri bertahan. Mengutuk tubuh tuanya yang tidak bisa lagi di ajak pergi. Benar-benar kesia-siaan hidup.

       Delapan puluh tahun percuma… Dia menjalankan masa kanak-kanak sama seperti teman-temannya. Menjadi remaja yang tak bosan bicara cinta sama seperti remaja lainnya. Bekerja menjadi pandai besi. Menikah. Punya anak. Dan seterusnya. Sama seperti penduduk Oase lainnya. Istrinya meninggal saat tubuhnya beranjak tua, beberapa tahun kemudian anak-anaknya pergi ke kota-kota lain. Dan dia tertinggal. Sendirian, hanya sibuk berteman pertanyaan apa arti seluruh kehidupan yang dimilikinya.

      Suatu hari serombongan karavan melintas di puing-puing Oase yang mengering. Mereka tiba persis saat Arab tua itu mati di rumah kecil dan buruknya. Lihatlah, hingga maut menjemput Arab tua itu tidak tahu apa sebab-akibat hidupnya… Karavan itu tidak peduli, meneruskan perjalanan setelah mengisi penuh-penuh tempat air. Hanya satu yang peduli. Orang itu berbaik hati menguburkan Arab tua tersebut.

      Kau tahu, ternyata orang yang berbaik hati itu terselamatkan atas pembantaian Suku Badui, kawanan bandit yang menguasai gurun… Karavan yang pergi lebih dahulu itu ternyata binasa, tidak bersisa. Orang yang berbaik hati menguburkan Arab tua itu baru berjalan esok harinya, menemukan bangkai dan sisa-sisa pertempuran mereka saat meneruskan perjalanan.

       Kawan, tahukah kau, lima generasi berikutnya, dari orang yang berbaik hati itu ternyata lahir seorang manusia pilihan. Manusia pilihan yang orang-orang kelak menyebutnya al-amin

       Bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Arab tua itu tidak meninggal hari itu, bukan? Orang baik itu juga ikut terbantai, bukan? Apakah yang akan terjadi dengan generasi kelima keturunannya kalau Arab tua itu tinggal menyesali diri di Oase. Bagaimana dengan nasib pembawa risalah itu. Itulah sebab-akibat kehidupannya. Yang sayangnya tidak dia ketahui hingga maut menjemputnya.

      Apakah cerita ini benar terjadi? Tentu saja tidak, kawan. Tetapi mungkin saja, bukan? Tidak ada yang tahu. Dari andai-andai itu, setidaknya Kau bisa membayangkan betapa hebatnya penjelasan sebab-akibat seharusnya bisa menuntun seseorang untuk selalu berbuat baik.

      Kawan, itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang akan mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat buruk ke orang lain.

       Kehidupan manusia itu bagai titik-titik kecil… Kau bayangkan sebuah kolam luas. Kolam itu tenang, saking tenangnya terlihat bagai kaca. Tiba-tiba hujan deras turun. Kau bayangkan, ada bermilyar bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak… Milyaran rintik air yang terus-menerus berdatangan, membentuk riak, kecil-kecil memenuhi seluruh permukaan kolam. Begitulah kehidupan ini, bagai sebuah kolam raksasa. Dan manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak. Riak itu adalah gambaran kehidupannya… Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam menit sekian, detik sekian? Ada milyaran butir air hujan lain, bahkan dalam sekejap riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah.

     Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada milyaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi. Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli dengan Kau?

      Ah, itu jika kau memandang kehidupan dari sisi yang amat negatif. Kalau kau memahaminya dari sisi positif, maka kau akan mengerti ada yang peduli atas bermilyar-milyar bulir air yang membuat riak tersebut. Peduli atas riak-riak yang kau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu. Dan saat kau menyadari ada yang peduli, maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil. Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat.

      Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan. Tidak ada yang bisa merubahnya, kecuali satu: yaitu kebaikan. Kebaikan bisa merubah takdir… Nanti kau akan mengerti, betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab-akibat milikmu. Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja.

      Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa merubah siklusnya, maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik. Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia, mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain, tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin.

       Kawan, kecil-besar nilai sebuah perbuatan Tuhan yang menentukan, kecil-besar pengaruhya bagi orang, Tuhan juga yang menentukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.

Ketika kau meminta sekuntum mawar merah, Tuhan memberikan kaktus berduri

Ketika kau meminta seekor kupu-kupu, Tuhan memberikan ulat berbulu yang menjijikkan

Ketika kau meminta emas berlian, Tuhan memberikan kerang laut nan amis

Tapi tahukah kau???

Kaktus berduri yang mungkin menusuk tanganmu kini ditumbuhi sekuntum bunga di tudungnya, yang tidak kalah indahnya dengan mawar yang kau minta

Ulat berbulu yang menjijikkan, kini bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang jauh lebih indah dari yang kau minta

Kerang laut nan amis, kini menghasilkan mutiara yang nilainya jauh lebih tinggi dari emas berlian

Sadarkah kita???

Apa yang kita inginkan belum tentu lebih baik dari apa yang Dia rencanakan…

 

 #Sebagian dikutip dari novel Tere Liye, Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

Tentang Desi Harahap

> I am a moslem > I don't like smokers > My hobbies are reading novel, writing, cooking, traveling, and nature cruising.
Pos ini dipublikasikan di Motivation and Inspiration. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s