“Miss Idaman”

 

Janganlah kau terlalu kasar menghadapi laki-laki. Biarkan saja dia menghujanimu dengan ribuan cinta dan kasih, terima saja. Jika kau tidak suka, tolaklah dengan perkataan yang baik lagi lembut. Jika dia tetap memaksa, tolak lebih tegas bahwa kau dan dia tidak bisa hidup bersama. Ingat, jangan sekali-kali menyakiti hatinya, barangkali bisa saja dia yang akan menjadi pendampingmu…

 Pepatah lama itu selalu saja terngiang-ngiang di telinga Desty. Sama halnya dengan nasehat kak Eno dua bulan yang lalu ketika Dia curhat tentang seorang laki-laki yang entah kesekian kalinya menyatakan perasaan kepadanya.

“Memangnya cowok itu siapa? Kalo sekarang kamu benar-benar udah jadi akhwat harus berani commitment gak pacar-pacaran gitu. Bisa menimbulkan fitnah buat dirimu adekku sayang… Lagian secara Islam kan gak ada yang namanya pacaran. Hubungan antara pria dan wanita yang bukan muhrim sudah diatur secara syariat Islam. Kita boleh mengenal lawan jenis tetapi harus ada hijab diantaranya, bukan dengan status pacaran”, nasehat kak Eno panjang lebar memenuhi telinganya.

So, kamu harus berani menyampaikan hal ini ke dia, beri dia pengertian dengan penyampaian bahasa yang baik agar dia tidak tersinggung. Walau tidak dengan status pacaran kalian kan tetap bisa berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan cara yang telah diatur Islam seperti yang kakak bilang tadi. Memangnya kamu juga suka yah sama dia. Siapa tadi namanya?” Ceramah kak Eno semakin panjang.

Desty hanya diam, berkutat dengan pikirannya. Mengingat nama pria itu saja kepalanya sudah pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak? Sudah ditolak beberapa kali tetap saja pemuda itu tidak menyerah. Terkadang Desty kasihan juga, yang hingga akhirnya “terpaksa” menenerima telfon mendengarkan ocehan gak penting si pemuda yang dianggap Desty hanyalah tumpukan sampah yang siap dilempar ke keranjang sampah disudut kamarnya.

Yahh dialah Agung Wibowo, teman sekelas Desty selama dua tahun di masa putih abu-abu. Ini yang kesekian kalinya Agung menyatakan perasaannya lewat telepon selular. Pernah dulu, persisnya saat Ramadhan tahun kedua mereka di bangku SMA. Agung menembaknya—juga melalui telfon.

Awalnya hanya percakapan seputar tugas-tugas sekolah yang akhirnya berujung pada pernyataan cinta itu. Sedikit aneh mungkin. Orang seperti Agung menembak seorang Desty??

“Bahh ngapain nih orang? Kesambet apa dia? Huhh gak tau malu, ngegangguin orang. Ramadhan gini bukannya ibadah, malah mikirin yang macam-macam”, sungut Desty dalam hati. Hahhh!

 

###

Well you done done me… and you bet I felt it. I try to beat you, but you’re so hot that I melted… I’m yours…” Terdengar nyanyian Jason Miraz, I’m yours—pertanda satu pesan masuk. Desty sayup-sayup membuka matanya, menahan kantuk. Mencoba meraba-raba sekitarnya mencari asal suara. Akhirnya  sebuah handphone i-Cherry  berhasil digenggamnya. Dengan susah payah Desty melawan kantuk mencoba membuka handphone pemberian kakaknya dengan model tutup buka—mungkin hanya dia satu-satunya di kota ini yang masih setia dengan handphone tipe semacam itu. Dilihatnya layar berukuran sedang itu, sebuah message. Sekilas Desty melihat penunjuk waktu di layar handphonenya, pukul 23.45.

Hahh! Siapa juga orang yang iseng mengirimkan message tengah malam begini? Desty sedikit kesal, tapi akhirnya dia menekan tombol Oke. Keningnya berkerut. Sebuah nama yang cukup lama tidak terdengar olehnya terpampang di layar kotak itu. Rio Darmawan. Yahh memang kebiasaan Desty menuliskan nama lengkap orang-orang di buku telpon handphonenya. Entah karena takut lupa atau entah kenapa.

“Malam Des, apa kabar?” Desty membaca pesan di layar handphonenya—masih dalam keadaan kantuk. Huhh! Malam-malam begini nge-SMS cuma nanya kabar? Kurang kerjaan! Desty bersungut dalam hati. Seperti biasanya walau kesal dan malas dia selalu saja meladeni telfon atau SMS yang masuk, penting gak penting, walaupun malam buta seperti saat ini—mungkin karena selalu terngiang pepatah lama itu. Dengan susah payah Desty menekan tombol-tombol mengetik kata demi kata untuk membalas SMS iseng itu.

“Alhamdulillah baik, kamu sendiri? Tumben nge-SMS malam-malam begini?” balas Desty dengan bahasa sesopan mungkin walau dengan hati sedikit jengkel—tentunya masih menahan kantuk.

Hampir satu jam Desty meladeni pemuda itu. Menahan kantuk menekan-nekan tombol handphone. Hingga akhirnya wanita cuek berparas manis ini benar-benar melek 100%. Betapa tidak? Pernyataan konyol Rio barusan yang menggelitik hati. Terdengar serius. Tetapi bagi Desty ini adalah pernyataan gila. Sama saja dengan Agung yang menembaknya berkali-kali, yang juga pernah berjanji akan menunggu Desty lulus kuliah dan kemudian akan melamarnya.

“Ntar kalo aku udah sukses, aku mau ngelamar Desty. Soalnya aku udah tau sifatnya Desty. Desty itu dambaan semua cowo.” Desty membaca pesan singkat itu dengan seksama. Hahh! Apa lagi ini? Aku? Dambaan semua cowo? Cukup lama Desty menatap layar handphonenya. Bingung mau ngomong apa.

“Desty aku udah kenal banget sama kamu. Makanya aku berani ngomong seperti ini, dan kamu itu beda dari cewe lain. Walaupun dulu kamu sering ngomel-ngomel sama aku.” Pesan berikutnya masuk. Desty tetap diam. Tidak berniat mengetik sepatah kata pun di layar handphonenya. Kenangan masa putih abu-abu kembali berputar di layar memory-nya. Wajah Rio dan Agung menari-nari dalam pikirannya. Bagaimana mungkin seorang Rio mengatakan hal konyol seperti tadi? “Aku? Dambaan semua cowo?” ulang Desty dalam hati.

###

 

Desty Ariani. Seorang wanita cuek berparas manis. Mungkin jika dibandingkan dengan mahasiswi-mahasiswi lain di kampusnya, dia tidak begitu populer. Jika dilihat dari fisik, hanya bibir mungilnya yang merah alami menghiasi wajah manisnya. Selebihnya tidak ada yang menarik dari Desty.

Desty sering bingung oleh tingkah para kaum lelaki yang mencoba mendekatinya. Semuanya motifnya sama. Ingin menjadikan Desty sebagai pasangan hidup—bukan sebagai pacar tentunya. Menikah? Terlalu dini untuk memikirkan hal semacam itu bagi Desty.

Sampai detik ini teman-teman semasa SMA-nya, khususnya kaum lelaki sering kali menghubunginya. Mulai dari hanya sekedar say Hello hingga pada akhirnya berjanji akan menjadikannya sebagai pasangan hidup di masa depan. Hahh! Omong kosong apa lagi ini? Desty selalu bersungut dalam hati setiap mendengar ocehan sejenis ini.

Hal yang serupa saat seniornya di kampus mencoba mendekatinya. “Des, kamu udah siap nikah? Kakak bisa ketemu orangtua kamu?”

“Ketemu orangtua saya? Buat apa?” Desty gelagapan mendengar pertanyaan tak diduga dari seniornya ini. “Yahh buat ngelamar kamu.”

 

###

Tentang Desi Harahap

> I am a moslem > I don't like smokers > My hobbies are reading novel, writing, cooking, traveling, and nature cruising.
Pos ini dipublikasikan di CERPEN dan tag , . Tandai permalink.

3 Balasan ke “Miss Idaman”

  1. sri genotiva suryani berkata:

    asah terus ya dek bakat mnulis nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s