Rendra

Gemericik air dari mata air panas di kaki Bukit Simago-mago ini jelas sudah sebagai peneduh hatinya. Sering kali ia bangun lebih awal dari seorang bilal mesjid dekat gubuk tempat ia tinggal, hanya untuk mendengar gemericik air yang saling bersahutan membentuk simponi yang begitu syahdu. Ketika ia membasuh tangan dan muka, seakan jiwanya terbawa melayang menuju suatu tempat yang damai. Ya, suatu tempat dimana ia tidak menemukan kepenatan batin.

Rasa syukur selalu diucapkannya, bagaimana tidak. Jika bukan karena bantuan Bang Regar, mungkin pemuda ini tidak akan sampai di tanah tapanuli ini. Pemuda yang masa lalunya penuh dengan kepedihan, hinaan, dan hasutan dari keluarganya sendiri. Bayang-bayang masa lalu yang masih menghantuinya di waktu tidur. Tidak jarang ia bangun dari tidur karena mimpi buruk. Masa lalu yang membuatnya berpisah dari sanak saudara nun jauh di Jakarta.

Kepedihan yang memukul ulu hatinya mulai dirasakan ketika duduk di bangku SMA. Pulang dari sekolah, seperti biasa dia selalu menemui ibunya di taman belakang rumah. Ia selalu mendapati ibunya sedang melukis dan sangat menyatu dengan alam. Tak heran lagi jika bakat seni itu memang diwarisi dari kakeknya yang terkenal piawai. Namun sore itu sangat asing baginya lukisan ibu. Guratan kuasnya tidak karuan. Sesekali ia dengar isak tangis dari perempuan itu. “Bu, kenapa bu?” Oh kamu Rendra, ibu baik baik saja.” Ibunya tersentak kaget. “Seragamnya diganti dulu sayang”, ibunya berusaha senyum. Rendra menatap mata ibunya tanpa berkedip sambil memegangi lengannya. Tak tahan dengan tingkah laku Rendra, kembali ibunya menitikkan air mata. “Bu, jawab bu. Apa yang terjadi?” ibunya kembali sesenggukan. “Ayah kamu nak. “Ayah kenapa bu?” ibunya masih belum menjawab. Isak tangis ibunya semakin jelas. Rendra tak tahan melihat keadaan ibunya seperti itu. Air matanya ikut mengalir.

Tak jauh dari tempat ia dan ibunya berdiri, terdengar gelak tawa genit dari seorang wanita. Suara gelak tawa itu sangat jelas menandakan bahwa wanita itu baru beranjak dewasa. Rendra mendekati suara itu. Dia berlari kecil menuju kamar orang tuanya. Tak sulit baginya untuk membuka pintu kamar itu karena memang tidak dikunci. Pintu dibanting keras olehnya. Didapatinya dua orang anak adam sedang bermesraan tanpa ikatan yang sah. Ayahnya dan gadis cantik itu spontan kaget. “Ayah..!! Apa yang kau perbuat Ayah..!!”

“Rendra..!! Apa-apaan kamu, keluar sekarang…, keluar..!”

“Oh, dia selingkuhan ayah kan! Jawab, yah..!!” bentak Rendra dengan penuh emosi. “Dasar anak kurang ajar.” Plak… plak. Ayah menampar pipi kanan dan kiri Rendra. Tak tahan dengan sikap ayahnya, ia menendang ayahnya tepat di bawah selangkangan. Ayahnya berteriak kencang sambil menahan rasa sakit. Gadis selingkuhan ayahnya berteriak histeris. Panik dengan keadaan, gadis itu spontan mengambil kaca rias kecil tak jauh dari tempat tidur. Diayunkannya kaca tersebut tepat di kepala Rendra. Rendra jatuh tersungkur tak berdaya. Gadis itu kembali histeris. Tanpa pikir panjang gadis itu buru-buru keluar kamar dan lari dari rumah itu.

******************************************************

Rendra dibawa ke rumah sakit terdekat oleh kedua orang tuanya. Ruang kamar kelas 1 adalah tujuan keluarga tersebut. Rendra terbaring tak berdaya. Jarum opname menempel dilengan kanannya. Ia tak sadarkan diri, namun masih bisa mendengar disekelilingnya.. Sudah lebih dari setengah hari kedua orang tuanya menunggu. Ibunya harap harap cemas. Samar samar rendra mendengar percakapan kedua orang tuanya.

“Maafkan saya mas, saya tidak bisa mendidik Rendra lebih baik” ibunya memohon dengan iba. “Ahh, kamu cuma basa basi. Sudah berapa kali saya dengar perkataanmu itu, ha..!!” bentak ayahnya dengan keras. “Tapi mas, memang mas lah yang salah. Mas tega selingkuh. Mas melakukan perbuatan itu di rumah kita sendiri”, jawab ibunya sesenggukan. “Kamu sudah mulai melawan ya Astri”. Plak… plak. Ayahnya menampar kedua pipi ibunya. “Ampun mas, ampun”, ibunya minta ampun sambil menangis. Ayahnya langsung beranjak keluar.

Isak tangis ibunya sangat memukul perasaan Rendra. Ulu hatinya bagai ditusuk belati. Tanpa sadar air matanya membasahi pipi. Perempuan yang selama ini ia kagumi begitu miris nasibnya. Dalam ketakberdayaan tubuhnya, Rendra teringat akan kisah pernikahan kedua orang tuanya. Pernikahan yang tak pernah direstui oleh keluarga ayahnya. Keluarga besar ayahnya tergolong orang yang berada, sedangkan ibunya sendiri yatim piatu yang sejak kecil sudah di asuh di panti asuhan. Pertemuan kedua orang tuanya berawal ketika keluarga besar ayahnya berkunjung ke panti asuhan untuk memberi bantuan.

Dalam kunjungan itu, ayah melihat seorang perempuan yang sedang asik bermain dengan anak anak panti asuhan. Senyum merekah mengembang dari bibir perempuan itu ketika seorang anak mengajaknya bercanda. Tak henti ayah memandang senyumannya hingga pada suatu kesempatan keduanya saling menatap pada waktu yang bersamaan. Seketika ayah menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Wanita itu tidak kalah kikuknya.

Semenjak kejadian itu ayah memberanikan diri mendekati wanita itu. Hubungan mereka semakin akrab hingga suatu ketika keluarga ayah mengetahui hubungan mereka. Keluarga besar ayah melarang keras hubungan ayah dengan wanita itu. Semakin ayah dilarang semakin besar cintanya kepada wanita itu. Ayah membawa kabur wanita itu dan menikahinya. Begitu besar cinta ayah kepada wanita itu. Ya, wanita itu tidak lain adalah ibunya. Wanita yang saat ini sesenggukan karena menerima tamparan ayah. Semakin keras isak tangis wanita itu semakin kuat tekat Rendra ingin memeluknya. Jari tangan Rendra bergerak pelan. Ia memanggil ibunya dengan suara lemah.

“Bu, ibu”.

“Rendra”, ibunya spontan kaget dan bahagia. “Kau sudah bangun nak, syukurlah”, senyum ikhlas ibunya begitu meneduhkan hatinya.

“Saya ada dimana, bu”.

“Kamu ada di rumah sakit. Syukurlah kamu udah sadar,” ucap ibunya sambil menyeka air mata.

“Ibu, Rendra minta maaf telah merepotkan ibu. Rendra telah banyak menyusahkan ibu”.

“Sudahlah nak, bukan kamu yang salah”.

“Tapi bu….”

“Ssstt, sudah ya…, kata dokter kamu jangan terlalu lama diajak ngobrol dulu. Kamu butuh istirahat yang cukup”, ibunya membujuk sambill tersenyum. Rendra membalas senyuman ibunya. “Ibu beliin kamu makanan dulu ya, sekalian buat ibu juga”, ibunya tersenyum lagi sambil beranjak meninggalkan Rendra.

***********************************************************

Sungguh senang hati Rendra pagi itu. Ia sudah diijinkan dokter untuk pulang. Perlahan honda jazz kesayangannya meninggalkan rumah sakit. “ Nak, nanti di rumah kamu harus tetap istirahat ya. Mama ga mau kamu harus dibawa ke rumah sakit lagi”.

“Ia ma, lagian Rendra juga sudah kangen tidur di ranjang kesayangan rendra. Heee”, celetus rendra. Ibunya senyum melihat anaknya bisa ceria lagi.

Sesampainya di rumah, didapatinya ayahnya sedang asik membaca koran di teras depan. Rendra berusaha untuk tersenyum ramah. “ Pagi, pa”. Ayahnya menoleh sambil mengernyitkan alis kanan. “Pagi”, jawab ayahnya dingin. Rendra tak bisa berkata-kata lagi. Sungguh asing baginya sikap ayah kali ini. Ayah yang dulu begitu ramah saat disapa berubah menjadi batu es yang begitu dingin.

Rendra langsung menuju kamarnya.

Tentang Desi Harahap

> I am a moslem > I don't like smokers > My hobbies are reading novel, writing, cooking, traveling, and nature cruising.
Pos ini dipublikasikan di CERPEN. Tandai permalink.

2 Balasan ke Rendra

  1. Yusuf Muhammad berkata:

    Hoho, dewasa sekali isi cerpennya..😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s