Sebuah Nama dalam Doa

“Ku sebut nama mu dalam setiap doaku” tulis seorang remaja tanggung dalam status facebook nya. Ntah dia paham dengan apa yang dia tuliskan, saya kurang tau. Ntah dia serius atau hanya sekedar status galau, saya juga kurang tau. Yang jelas saya sedikit tergelitik dan jadi senyum-senyum sendiri menahan tawa melihat tingkah bocah ingusan ini.

Di lain waktu ada seorang pria, sebut saja namanya Mada. Si pria ini memiliki teman wanita, sebut saja Bunga. Mungkin saking dekatnya hubungan pertemanan mereka, senantiasa bertukar kabar (walaupun hanya via telfon, bbm dkk), Mada merasa hubungan mereka sudah sangat dekat dan bisa dibilang serius. Suatu ketika seperti
biasanya mereka berbincang ria via telfon.

“Setiap habis shalat biasanya doa kamu apa?”, tanya Mada.

“Yahhh… ngedoa’in orangtuaku lah. Doa’in saudara-saudaraku dan keluargaku, doa’in pendidikan dan karirku kedepannya”, jawab Bunga dengan santai.

“Yaa selain itu? Masa’ itu doang? Seperti masalah jodoh mungkin?”, tanya Mada lagi tidak sabaran.

“Ohhh jodoh. Yaa aku doa’in juga dong. Aku minta kepada Tuhan buat dijodohkan dengan laki-laki sholeh. Siapapun itu orangnya, yang penting bisa membimbingku dan anak-anakku kelak ke jalan-Nya”.

“Siapapun itu orangnya? Jadi kau tidak menyebut namaku dalam doa mu?”, kali ini Mada tidak hanya sekedar bertanya. Seperti ada sebuah tuntutan atau permintaan di pertanyaan  terakhir ini.

Bunga sedikit kaget dengan pertanyaan Mada. “Lahh iya. Apapun yang diberikan Tuhan itulah yang terbaik. Berdoa agar diberikan laki-laki sholeh, bukankah itu doa yang baik? Memangnya ada masalah dengan itu?”, Bunga balik bertanya dengan perasaan jengkel.

“Bunga… asal kau tau. Dalam setiap doa ku, setiap aku shalat malam, di setiap tahajjud ku, aku selalu menyebut nama mu. Aku selalu berdoa agar hubungan kita dipermudah. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar kita berjodoh. Hanya nama mu Bunga, tidak ada nama wanita lain”.

“Lohh memangnya ada apa dengan hubungan kita?”, tanya Bunga lagi dengan nada polos, dan ini pastinya akan sangat sangat membuat Mada semakin menggalau ria. Hahaha😀

Jadi teringat dengan isi materi yang disampaikan murobbi-ku beberapa tahun silam saat mentoring. Kala itu beliau bercerita tentang sebuah kisah perjalanan seorang teman yang tak kunjung dipertemukan dengan jodohnya. Lantas apa yang dilakukan teman beliau tersebut? Menggalau-ria kah? Update status galau kah? Guling-guling di pasir kah? Atau ikutan daftar jadi peserta di website ajang pencarian jodoh? Seperti loveluve.com atau cupid.com misalnya? Haha😀. “Mbak cuma berdoa kepada Allah biar dipertemukan dengan seorang laki-laki sholeh”, jawaban yang sederhana tapi pas kena di hati. Lalu apa yang terjadi kemudian? Subhanallah, puji Tuhan, akhirnya si teman beliau ini menikah dengan seorang laki-laki sholeh, persis seperti doanya. Tidak hanya sekedar sholeh, tapi juga seorang pria berpendidikan tinggi, mapan, dan juga rupawan. “Jadi, buat adik-adik, juga buat Uni yang masih single ini, hehehehe, kita cukup meminta laki-laki sholeh kepada Allah. Nggak usah menyebut-nyebut nama si A, nama si B, si C. Allah lebih tau mana yang terbaik buat kita. Kalau sudah sholeh, pastinya aspek-aspek lain sisi kehidupannya akan baik juga. Insya Allah…”, kata murobbi-ku yang saat itu juga masih single.

Tentang Desi Harahap

> I am a moslem > I don't like smokers > My hobbies are reading novel, writing, cooking, traveling, and nature cruising.
Pos ini dipublikasikan di Corat-coret dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Sebuah Nama dalam Doa

  1. Yusuf Muhammad berkata:

    Iya, apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s